Selasa, 07 Juli 2026
Melebihi Harapan
Ulangan 3 : 23-29
Banyak orang mengatakan ia paling mengasihi Tuhan. Namun, saat mereka berdoa memohon sesuatu kepada Tuhan, dan lama doa itu belum terkabul, mereka kecewa kepada Tuhan. Harusnya, jika Tuhan yang paling dikasihi maka Tuhanlah yang diutamakan. Harusnya, teramat hati menginginkan Tuhan, melebihi harapan.
Musa adalah gambaran dari seseorang yang paling mengasihi Tuhan. Setelah berdebat cukup lama dengan Tuhan, Musa setuju memimpin bangsa Israel keluar dari Mesir. Ia menghadirkan sepuluh tulah dari Tuhan, lalu bangsa itu pun dibebaskan. Selanjutnya, berjalanlah Musa di depan bangsa itu menuju Kanaan, melewati padang gurun. Perjalanan terasa tidak mudah karena berkali-kali bangsa itu mengeluh. Suatu hari, karena gemasnya terhadap mereka, Musa melalaikan perintah Tuhan. Tuhan berkata kepada Musa bahwa ia takkan memasuki Kanaan (lih. Bil. 20:2-13). Pernah Musa memohon kemurahan Tuhan, yang artinya ia berharap melihat negeri perjanjian yang dikatakan berlimpah-limpah susu dan madunya. Tuhan menjawab, "Cukup! Jangan lagi bicarakan hal itu dengan Aku, " yang artinya harapan tidak akan terlaksana. Tercatat sesudah itu Musa masih menjalankan tugasnya dengan baik. Ia menasihati bangsa itu supaya terus setia kepada Tuhan, pula mempersiapkan Yosua sebagai penggantinya. Musa tidak kecewa karena ia menginginkan Tuhan, melebihi harapannya.
Nas renungan hari ini mengajak kita untuk bersama-sama mengoreksi diri. Sungguhkah yang paling kita kasihi itu Tuhan, bukan berkat Tuhan? Jika sungguh perkataan bukan bualan, hendaklah kita menunjukkan bukti. Jika kita berkata, "Aku paling mengasihi Tuhan, " mari tetap bersukacita, sekalipun saat ini masih ada harapan doa kita yang belum terpenuhi.
* * *
JIKA SUNGGUH TUHANLAH YANG PALING MENAWAN HATI MAKA TAKKAN ADA
PERASAAN KECEWA KETIKA ADA SUATU HARAPAN YANG BELUM TERLAKSANA.
Kembali ke Renungan